KISAH CINTA PART 1

 Pada zaman dahulu kala (waktu aku masih sekolah SLTA kelas 2), Aku mengenal seorang gadis cantik disekolahku dan dia masih duduk dikelas satu. Aku akui dia memang cantik jadi wajar saja kalau para cowok-cowok di sekolahku berebutan untuk mengantar dia pulang. Akan tetapi sayang sekali, semua rayuan cowok itu ditolaknya mentah-mentah bukan dia sok jual mahal atau jual ikan, tapi karena dia juga bawa sepeda motor sendiri.

Terus terang PHILIPS terang terus….hehehe…maksudnya terus terang 100% kuadrat pangkat 5 dikalikan 100 akar pangkat seribu, aku jatuh cinta sama dia. Setiap memandang wajahnya, secara tiba-tiba aliran darah diseluruh tubuhku terasa dingin dan menyejukanku. Apalagi ketika dia tersenyum manis dan memperlihatkan gigi putihnya yang cemerlang, sedikit cahaya dari giginya saja sanggup membuat kakiku terasa bergetar dan membuat badanku terasa terbang setinggi 15 cm diatas lutut.  Akan tetapi siapalah diriku ini, aku bukanlah anak seorang pejabat atau anak konglomerat. Jangankan punya sepeda motor, uang buat sangu sehari-hari saja aku nyaris tidak punya. Bahkan terkadang, bila jam istirahat tiba aku harus menunjukan wajah memelas agar teman-temanku merasa iba dan mentraktirku makan.  Tapi salahkah apabila orang yang tidak punya apa-apa seperti diriku jatuh cinta terhadap seorang gadis cantik yang menjadi idola disekolahku ?.  Akh…emang GP..perduli kata orang yang penting jalan terus…..

Dari hari kehari tumpukan perasaanku kepadanya semakin menggunung. Setiap detikpun aku tak dapat menghapus ingatanku kepadanya dan aku sadar mungkin inilah yang dinamakan di mabuk asrama, eit…salah !!!! di mabuk asmara maksudnya.  Tapi apakah aku harus terus-terusan memendam perasaanku ini kepadanya ?. Adalah goblok apabila diriku terus termangu seperti sapi yang diikat hidungnya. Aku harus berusaha bagaimana caranya agar gadis itu tahu isi hatiku walaupun aku harus siap-siap kecewa apabila ditolaknya. Aku sadar secara hitungan matematis kemungkinan ditolak 100% dan diterima kira-kira 0,01%. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahku untuk berusaha memiliki dirinya, karena terkadang juga faktor keberuntungan ataupun faktor kesialan akan selalu menjadi faktor penentu dari apa yang kuusahakan.  Tapi pada saat itu aku benar-benar bingung bagaimana caranya agar aku bisa dekat dan mengenal jauh gadis pujaan hatiku, walaupun sebenarnya pada jam istirahat aku sering kekantin untuk sekedar mencari dirinya dan mencuri pandang menatap wajahnya dan mungkin dia agak sedikit sadar dengan curi-curi pandangku dan terkadang dia memberi sedikit senyumannya, tapi itu bukan berarti aku sudah bisa mendekati dirinya, mungkin itu hanyalah sebuah senyum atas keramahan dirinya kepada semua orang yang dia kenal atau tidak dikenalnya dan aku yakin itu adalah sebuah senyum untuk orang yang tidak dikenal seperti diriku.  Sudah hampir 1 bulan berjalan aku tidak dapat cara agar dapat dekat dengan gadis pujaanku. Tentunya ini sangat berbeda jauh dengan usaha yang dilakukan oleh para pesaing-pesaing beratku, ibarat lomba lari marathon dari Sungai Taib  ke Siring Laut aku baru sampai di  tempat pengisian bensin sedangkan pesaingku sudah hampir  mendekati warung makan Sri Dewi.

Hari senin pagi seperti biasa upacara dimulai. Baru 15 menit berdiri kakiku sudah gemeteran ditambah kepala pusing, inilah resiko kalau tiap berangkat sekolah tanpa ada sarapan lepat atau nasi kuning kesukaanku (sebenarnya pingin sarapan tapi duit kiriman sudah habis jadi terpaksa tanggung akibatnya.) dalam keadaan pusing dan kaki gemetaran ditambah perut mulai mual akupun limbung jatuh ketanah.  Petugas PMR yang cowok akhirya turun tangan untuk ngangkat tubuhku keatas tandu dan langsung dibawa ke UKS. Sampai di UKS aku terus-terusan mual sampai muntah2. Akupun merebahkan tubuhku ketempat tidur. Tidak lama datang 2 orang anggota  PMR cewek sedang menuntun seorang peserta upacara yang juga kelihatan sakit.  Tapi alangkah terkezutnya diriku…………, yang mereka tolong adalah seorang gadis  yang setiap menit setiap detik dan setiap hari ada dihatiku.  Akhirnya ibarat kata pepatah  “Asam di laut, Garam Digunung Didalam wajan bertemu juga”,  bukan kepalang senangnya hatiku, aku pun bersyukur bisa pingsan dihari senin tersebut.
TOBE CONTINUED……………